Pages

Selasa, 05 April 2011

Fenomena Pendidikan di Indonesia

Anggota :
Khairunnisah 10-101

Fenomena 1 :
Fenomena yang dibahas dalam kasus di atas adalah mengenai bocornya soal Ujian Nasional di beberapa sekolah di Indonesia sebelum waktu pelaksanaan ujian. Fenomena ini sudah terjadi beberapa tahun belakangan ini, namun masih belum ada ketegasan dari pemerintah untuk menindaklanjuti oknum yang melakukannya. Fenomena ini akan dibahas dengan menggunakan Teori Psikologi Pendidikan dan Teori Pendidikan Keluarga.
Pembahasan :
  1. Teori Psikologi Pendidikan
Dalam kasus di atas, oknum yang sering melakukan kecurangan dengan membocorkan soal Ujian Nasional adalah guru dan pihak yang terkait dengan sekolah. Dan motivasi mereka dalam melakukan kecurangan itu juga bervariasi, mulai dari ingin mencari keuntungan sampai tidak tega melihat siswanya tidak lulus UN. Ya apabila dikaitkan dengan sekolah, tentu saja pihak sekolah ingin semua siswanya lulus demi menjunjung tinggi nama baik sekolah tersebut dari rasa malu.
Dalam hal ini, guru yang melakukan kecurangan kurang memiliki komitmen dan motivasi, seperti yang diungkapkan dalam buku Santrock mengenai “Cara Mengajar yang Efektif”. Seharusnya guru sebagai pendidik memiliki pengetahuan dan keahlian profesional serta komitmen dan motivasi yang tinggi terhadap pekerjaannya, tidak hanya di dalam ruang lingkup kelas tapi juga di kehidupan sehari-hari.
Selain itu, penyebab bocornya soal UN juga bisa dikarenakan murid yang merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya. Sehingga dia berusaha mencari segala jalan untuk dapat menghindarkan dirinya dari kegagalan, seperti yang diungkapkan oleh Jere Brophy, terdapat beberapa jenis murid yang dapat menghambar proses belajar-mengajar, yaitu salah satunya murid yang termotivasi untuk menghindari dirinya dari kegagalan. Bahkan mereka cenderung menghalalkan segala cara untuk menghindari kegagalan.
  1. Teori Pendidikan Keluarga
Ditinjau dari Pendidikan Keluarga, orang tua memiliki peran sangat penting dalam fenomena di atas. Harapan dan tuntutan orang tua yang terlalu tinggi mengakibatkan anak merasa tertekan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai harapan tersebut. Sayangnya terkadang orang tua tidak mampu merasakan perasaan anak dalam menghadapi Ujian Nasional. Tak jarang anak akan merasakan anxiety (kecemasan) yang berlebihan menjelang Ujian Nasional.
Beberapa anak mengidap kecemasan tingkat tinggi lantaran orang tuanya membebankan standar prestasi yang tidak realistis pada diri anak mereka.” (Eccles, Wigfield) “Hal ini biasanya dikarenakan orang tua yang ambisius dan terobsesi pada sesuatu, kemudian dengan serta merta ingin menjadikan anaknya tersebut seperti yang dikehendakinya atau minimal sesukses dirinya. Sebaliknya juga bisa terjadi, karena orang tua gagal atau terpuruk dalam suatu bidang atau jenis kegiatan, kemudian dia melarang anaknya untuk memasuki suatu bidang.”
  1. Teori Bimbingan Sekolah
Peran guru bimbingan sangat penting dalam hal ini, yaitu untuk memberikan motivasi pada siswa agar menenangkan diri menjelang ujian dan tidak terlalu memikirkan masalah kelulusan. Karena selain orang tua, guru bimbingan dianggap sebagai orang tua kedua mereka di sekolah yang bisa mendorong siswa untuk lebih berprestasi tanpa perlu menggunakan cara “kotor”.
Fenomena 2 :
  1. Pendidikan di Indonesia: Mengapa Harus Mahal?!

Banyak orang tua murid khususnya dari golongan menengah ke bawah yang masih merupakan kalangan mayoritas di Indonesia mengeluhkan mengenai besarnya biaya pendidikan yang harus mereka keluarkan untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Bahkan pernah beberapa media cetak dan TV pernah menampilkan/menayangkan beberapa anak didik yang nekad melakukan bunuh diri hanya karena ketidakmampuan orang tua mereka membayar kewajiban administrasi / iuran sekolah. Padahal seperti kita ketahui hampir 20% APBN Pemerintah Indonesia sudah dialokasikan untuk sektor pendidikan dan pemerintah juga mengeluarkan Program BOS dan BOS buku (BOS = Biaya Operasional Sekolah).

Pembahasan :
  1. Teori Psikologi Pendidikan
Inilah fenomena pendidikan yang terjadi di negara kita. Hingga saat ini pendidikan masih merupakan sebuah mimpi bagi kalangan menengah ke bawah. Mengingat dari tahun ke tahun biaya pendidikan semakin mahal saja. Padahal, itu semua seharusnya sudah termasuk ke dalam anggaran pemerintah.
Bukankah sebagian anggaran sudah ditujukan untuk pendidikan?? Anggaran pendidikan dinaikkan, tetapi biaya untuk mengakses pendidikan semakin mahal. Tingkat pendidikan yang baik tentunya juga akan berdampak pada tingkat kesejahteraan yang lebih baik pula. Dengan adanya pendidikan, maka wawasan dan cara pandang serta berpikir seseorang akan semakin luas.
Kita telah merdeka dari penjajahan. Sekarang saatnya kita bangkit menjadi bangsa yang lebih kuat dan berpendidikan. Sehingga orang lain tidak dengan gampang membodohi kita. Sudah saatnya pemerintah untuk termotivasi melaksanakan program sekolah gratis karena menyadari pentingnya aset sumber daya manusia sebagai masa depan bangsa dan negara untuk kedepannya. Sangat banyak anak-anak bangsa yang cerdas tetapi tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya. Hal ini akan berdampak buruk pada kualitas sumber daya manusia di negara kita ke depannya. Bukankah negara ini didirikan untuk mencerdaskan dan menyejahterakan rakyatnya?

  1. Teori Pendidikan Keluarga
Keluarga terutama orang tua harus mengusahakan pendidikan untuk anak mereka. Peran sera mereka juga diperlukan dalam membimbing anak belajar di rumah. Selain itu dukungan dari kerabat dekat sekiranya dapat membantu meringankan beban biaya sekolah bagi kerabatnya yang kurang mampu tersebut sembari menunggu keputusan pemerintah mengenai kebijakan pendidikan gratis.


Fenomena 3 :

PENDIDIKAN GRATIS
Fenomena pendidikan gratis sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Salah satu program pemerintah adalah dana BOS yang dapat membantu pendidikan bagi siswa yang orangtuanya kurang mampu. Tetapi, masih adanya pro-kontra dalam program-program pendidikan gratis. Serta, pendidikan gratis memiliki kualitas pendidikan yang masih rendah karena gratis.

Pembahasan :
  1. Teori Psikologi Pendidikan
Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.
  1. Teori Pendidikan Keluarga
Inilah fenomena yang terjadi di Negara kita, pendidikan gratis yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Banyak orang tua yang menginginkan kebijakan dari pemerintah akan pendidikan bagi orang yang tidak mampu. Dengan adanya dana BOS yang untuk membantu para siswa yang orang tuanya tidak mampu.
Tapi, ada juga prokontra terhadap pendidikan gratis. Pro mengatakan bahwa upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan penurunan angka anak putus sekolah, sekolah gratis bagi orangtua bisa mengurangi beban pikirannya untuk masalah biaya pendidikan dan tidak ada lagi anak-anak yang tidak boleh ikut ujian hanya karena belum bayar iuran sekolah.
Kontra mengatakan bahwa pemerintah bagaikan pahlawan kesiangan karena program tersebut sudah ada yang terlebih dahulu melakukannya seperti LSM-LSM. Serta, tidak dijaganya kualitas pendidikan di pendidikan gratis tersebut. Seperti teori behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas. sekolah yang pendidikannya gratis kualitas pendidikan yang didapat pun rendah. Sehingga menghambat perkembangan keterampilan siswa.
Daftar Pustaka : Santrock., J. W. (2010). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta : Prenada Media Group.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar